Tak Sekadar Ramah Lingkungan, Kenali Sustainable Fashion Lebih Dekat

0
6


JawaPos.com – Fashion menjadi salah satu pemicu limbah dari segi pewarnaan atau kainnya. Menyadari hal itu, para desainer fashion saat ini sudah semakin sadar untuk berkomitmen mengurangi limbah dengan produksi less waste atau zero waste. Salah satu kampanye yang saat ini sedang diusung adalah Sustainable Fashion. Apa itu?

Dalam laman Ellen Macartur Foundation disebutkan fashion adalah industri yang yang mempekerjakan ratusan juta orang, menghasilkan pendapatan yang signifikan dan menyentuh hampir semua orang di mana saja. Tren ini 15 tahun terakhir memicu meningkatnya permintaan dari kelas menengah dan memunculkan fenomena ‘fast fashion’, yang mengarah pada dua kali lipat produksi dalam periode yang sama. Dampaknya pakaian, kain, dan serat akan berakhir sebagai limbah.

Dalam ajang Jakarta Fashion Trend baru-baru ini semangat Sustainable Fashion lewat  Fashion Revolution pun digerakan. Yakn gerakan kepedulian atas isu-isu kemanusiaan dan lingkungan dalam industri fashion. Isu sustainable yang sekarang sedang maraknya diangkat, merupakan salah satu unsur dari fashion revolution.

Fashion bukan hanya tentang sebuah baju tetapi kepedulian yang ada menyertainya. Kualitas busana yang baik, kepedulian terhadap para pekerja yang terlibat, baik penjahit, pengrajin, dll dan juga termasuk kepedulian terhadap isu-isu lingkungan,” tegas Desainer dan Ketua Indonesia Fashion Chamber (IFC) Chapter Jakarta Hannie Hananto.

Koleksi busana karya Monika Jufry dalam Jakarta Fashion Trend yang menggunakan limabh sisa benang. (Istimewa)

Sehingga ada tiga prinsip yang dipegang. Yakni ‘who makes your cloth’ menggambarkan kepedulian kepada tenaga-tenaga di industri ini (penjahit, pengrajin, dll), Lalu ‘good design is sustainable design’ menggambarkan bahwa pembuatan suatu busana yang bermutu akan memiliki kekuatan keberlangsungan yang lebih tinggi. Sedangkan ‘Fashion shouldn’t cost the earth’ menggambarkan kepedulian terhadap lingkungan, baik dari sisi pemakaian bahan daur ulang atau limbah. Serta juga dengan beralih dari menggunakan plastik ke packaging yang eco friendly misalnya.

“Isu ini sudah beredar 2-3 tahun lalu. Bahwa Fast Fashion mirip seperti fast food. Bayangkan, kalau kita makan itu setiap saat, cepat saji, makannya gurih, pasti enggak baik kan untuk kesehatan. Sama seperti fast fashion brand-brand besar di mal-mal yang sering dibeli,” tegas Hannie kepada JawaPos.com.

Perputaran transaksi fashion yang sangat cepat itu dalam 3-4 bulan baju-baju yang sudah dibeli akan menjadi limbah. Baju-baju bekas akan menjadi penyumbang sampah yang kaitannya dengan ekosistem lingkungan.

“Kami melihatnya Sustainable Fashion terkait erat dengan ekosistem penjahit, perajin, pekerja, desainer, pabrik, dan semuanya,” tegasnya.

Maka ada syarat yang bisa dilakukan agar sustainable fashion bisa tetap dikampanyekan oleh industri mode,

1. Kesejahteraan Karyawan

Sustainable fashion bicara soal konsep. Penjahit di garmen-garmen besar selama ini harganya ditekan, dan kesejahteraan tak terjamin. Mereka seringkali dibeli murah oleh industri dengan jumlah besar.

“Beda dengan sustainable fashion yang dibuat oleh desainer yang menghargai kualitas. Jumlah bajunya sedikit, harganya memang pasti lebih mahal. Karena bayar penjahitnya memang mahal, tapi penjahit lebih sejahtera daripada fast fashion.

2. Kualitas Fashion

Cost produksi dsn harga sustainable fashion memang lebih mahal dibanding fast fashion. Sebab Sustainable Fashion memiliki desain dan kualitas yang bagus. Busana itu juga bisa digunakan awet turun menurun dari generasi ke generasi.

“Pasti cost-nya lebih mahal karena melibatkan perajin, lalu bahan-bahan berkualitas dengan daur ulang yamg butuh waktu proses lama. Teknologi dan good desain, good kualitas. Lebih mahal, karena pola berpikirnya harus berubah. Berpikir scara ekonomis atau dampak lingkungan. Mau kan, beli baju jarang dan awet tapi bagus kualitasnya,” ungkapnya.

3. Kreatif dan Ramah Lingkungan

Sejumlah desainer muda saat ini juga sudah mulai berpikir menggunakan konsep sustainable fashion. Mereka membuat dengan buatan tangan, menggunakan pewarna alami, dan memberdayakan para perajin.

“Kalau berpikir laku atau enggak, itu sama halnya dulu kita berpikir 10 tahun lalu. Apa iya ya laku jualan baju lewat online? Dan ternyata kini pada masanya, beli baju lewat online justru laris. Sama dengan sustainable fashion yang akan terjawab 5-10 tahun nanti. Dengan begitu ada etika-etika fashion yang kita pegang. Lebih perhatikan pekerja dan berpikir soal good quality,” tandasnya.

Editor : Nurul Adriyana Salbiah

Reporter : Marieska Harya Virdhani





>>Artikel Asli<<

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here