Heboh Viral Video “Syur”, PKS: Tantangan Sumedang Simpati

0
11


SUMEDANG.ONLINE — Anggota Fraksi Partai Keadilan Sejahtera Kabupaten Sumedang, Drg. H. Rahmat Juliadi, M.Hkes, memberikan tanggapan berkaitan dengan viralnya video mesum di Kota Tahu. Dia mengaku sangat prihatin dengan adanya kejadian tersebut, karena di saat bersamaan Sumedang sedang bebenah dalam berbagai bidang termasuk perhatian pemerintah daerah terhadap pembangunan moral dan ahlak warganya.

“Visi Sumedang Simpati, dimana di dalammya terdapat upaya pemerintah Kabupaten Sumedang yang ingin mewujudkan masyarakat yang agamis nampaknya masih memerlukan energi yang sangat besar,” kata Rahmat dalam siaran persnya.

Kondisi ini menurut dia, mengharuskan Bupati Sumedang, H Dony Ahmad Munir dan jajarannya bekerja ekstra keras untuk mewujudkannya. Meski sebut dia, memang sudah ada upaya-upaya yang dilakukan pemerintah melalui berbagai program. Seperti gerakan salat subuh berjamaah, program magrib mengaji dan beberapa program lainnya.

”Saya cukup mengapresiasi upaya yang telah dilakukan Pemkab Sumedang, namun di sisi lain. Saya masih melihat program-program tersebut masih terkesan seremonial saja. Hanya diikuti sebagian kecil masyarakat yang memang sudah memiliki kebiasaan baik seperti itu. Dan segelintir pejabat dan aparatur Pemkab yang memiliki komitmen yang kuat atau aparatur yang hanya asal gugur kewajiban saja memdampingi kepala daerah agar tidak mendapat teguran atau punishment dari pimpinan,” jelasnya.

Menurut dia, viralnya video “syur” warga Sumedang di media sosial yang membuat geger sebagian masyarakat. “Bagi saya tidak terlalu mengagetkan, bahkan sebelumnya pun jagat dunia maya di hebohkan dengan viralnya video “syur” warga asal Garut. Sebagaimana yang sudah pernah saya sampaikan bahwa sesungguhnya hal ini merupakan “fenomena gunung es” dimana kondisi yang sesungguhnya jauh lebih banyak dan lebih parah dari yang tampak. Hal ini terjadi salah satu faktornya akibat kemajuan teknologi informasi yang berkembang sangat pesat, apabila masyarakat tidak bisa menggunakannya dengan bijak maka akan menimbulkan dampak negatif yang luas. Di samping tentunya moralitas sebagian masyarakat yg masih rendah,” ungkapnya.

Meski hal ini, sebut dia, bukan menjadi tanggung jawab Pemkab Sumedang sepenuhnya akan tetapi ini menjadi tanggung jawab semua stakeholder yang ada di Kabupaten Sumedang. Dia pun memberikan apresiasi terhadap kinerja apparat kepolisian, yang dengan cepat mengungkap kasus itu.

“Namun kasus ini harus menjadi bahan introspeksi bagi semua pemangku kebijakan untuk mengoptimalkan peran dan fungsinya masing-masing. Para alim ulama, ustad dan tokoh masyarakat untuk terus mengoptimalkan perannya dalam membina dan membimbing masyarakat, para orang tua dan guru dalam mendidik dan mengawasi anak-anak dan peserta didiknya,” imbuhnya.

Tak hanya itu, Pemerintahan Kabupaten Sumedang dan DPRD harus membuat regulasi atau peraturan daerah yang mendukung terwujudnya Sumedang Simpati. Salahsatunya yang berkaitan dengan mewujudkan masyarakat agamis. Meski secara aturan di Kabupaten Sumedang sudah memiliki Peraturan Daerah tentang penyelengaraan pendidikan, namun perda ini tidaklah memadai, di samping implementasinya yang lemah, peraturan pelaksananya berupa Perbup belum rinci.

“Saya mengusulkan kepada bupati dan dprd untuk mebuat regulasi yang lebih spesifik guna menanggulagi atau setidaknya mengurangi dan meminimalisir kasus-kasus seperti di atas, seperti Perda tentang Ketahanan Keluarga , juga Perda pelarangan siswa membawa handphone ke sekolah. Karena sebagaimana diketahui bersama bahwa kasus video “syur” pun banyak yg melibatkan pelajar, baik penyebarannya bahkan prakteknya yg terjadi di lingkungan sekolah. Namun demikian sebaik apapun aturan yg di buat, akan kembali kepada masyarakat Sumedang apakah mempunyai keinginan dan komitmen yg kuat untuk mewujudkan masyarakat yg agamis untuk menuju visi Sumedang Simpati,” pungkasnya. (rls)





>>Artikel Asli<<

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here